Hukum membalas kejahatan dengan kejahatan setimpal

Tanya :

Assalamualaikum Wr Wb.

Saya salah seorang karyawan di salah satu instansi pemerintah yang berusaha untuk bersikap sebaik-baiknya terhadap atasan dan rekan-rekan sekerja. Yang menjadi kendala untuk terus mempertahankan sikap ini adalah salah seorang atasan yang sering bersikap tidak terpuji terhadap hampir semua bawahannya. Saya sudah berusaha untuk bersabar, namun akhirnya sulit juga mempertahankan kesabaran, karena selaku manusia biasa kadang-kadang ada keinginan untuk membalas sikap yang sama kepada yang bersangkutan dengan tujuan agar dia lambat laun bisa berpikir untuk introspeksi diri agar mengubah perangainya. Pertanyaan saya, apakah salah apabila saya membalas perilaku tidak terpuji yang bersangkutan dengan perilaku setimpal dari saya, seperti apabila dia melakukan sesuatu yang menimbulkan rasa kesal, saya juga melakukan sikap yang sama untuk membuat dia kesal?

Penanya : hamba Allah

Jawab :

Waalaikumsalam Wr Wb.

Hamba Allah yang dimuliakan Allah, sikap Anda yang pertama yakni mempertahankan kesabaran merupakan sikap yang paling mulia di sisi Allah karena anjuran untuk bersabar dalam menghadapi sikap tidak terpuji di sekeliling kita adalah yang paling diutamakan atau terbaik.

Singkatnya, dalam menghadapi perilaku tidak terpuji tersebut terdapat dua pilihan bagi seseorang :

Pertama : membalas dengan sikap sabar (pilihan terbaik).

Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 126 :

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرينَ
Artinya :

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

Kedua : Boleh membalasnya dengan sikap setimpal atau kejahatan setimpal.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 194 :

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ

Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu

Dalam Tafsir Al-Qurthubi dijelaskan sebagai berikut :

فمن ظلمك فخذ حقك منه بقدر مظلمتك ومن شتمك فرد عليه مثل قوله ومن اخذ عرضك فخذ عرضه ولا تتعدى إلى أبويه ولا إلى ابنه أو قريبه

Artinya :

Barang siapa yang menzalimimu maka ambillah hakmu yang dizalimi tersebut, barang siapa yang mencacimu, maka cacilah ia sesuai dengan cacian yang setimpal, barang siapa yang mempermalukanmu maka permalukan dia, dan janganlah kamu melebihi itu seperti mempermalukan kedua orang tuanya, anaknya atau kerabatnya yang lain. (Tafsir Qurthibi Jld. 2 hal 360 terbitan Daar Al-Shaab Kairo th. 1372 H).

Imam At-Thobari dalam tafsirnya menegaskan :

فالعدوان الأول ظلم والثاني جزاء لا ظلم بل هو عدل لأنه عقوبة للظالم على ظلمه

Maksudnya :

Kejahatan orang yang pertama merupakan perbuatan zalim, dan balasan kejahatan yang setimpal dari orang kedua (dizalimi) merupakan ganjaran bagi orang pertama, sebab hal ini merupakan balasan perbuatan zalim atas orang zalim tersebut (Tafsir At-Thobari jld 1 hal 133, terbitan Daar Al-Fikri Beirut th. 1405 H).

Allah juga berfirman dalam surat An-Nahl ayat 126 :

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُواْ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ
Artinya :

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.

Imam Al-Qurthubi berkata : perinsip ini berlaku dalam segala sesuatu.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan juga maksud ayat tersebut bahwa suatu kejahatan boleh dibalas dengan kejahatan setimpal. (Tafsir Ibnu Katsir jld 1 hal 229, terbitan Daar Al-Fikri Beirut th. 1401 H).

Allah berfirman dalam surat As-Shoura ayat 40 :

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا
Artinya :

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan dengan singkat dan padat tentang ayat tersebut dengan mengatakan : kejahatan yang pertama adalah kezaliman dan balasannya dalam bentuk kejahatan serupa adalah keadilan. (Tafsir Ibnu Katsir jld 1 hal 52, terbitan Daar Al-Fikri Beirut th. 1401 H.

Singkatnya :

Dalam menghadapi perlakuan jahat seseorang maka ada dua pilihan yaitu pertama bersabar dan ini pilihan terbaik dan kedua membalasnya dengan perbuatan atau kejahatan setimpal dan inilah pilihan baik.

Demikian jawaban singkat dari kami semoga ada manfaatnya bagi selain penanya. Wallahu A`lam.

Tim Syariah Alumni Univ. Al-Azhar Cairo.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: